Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas dikemukakan bahwa padri-padri bangsa Yahudi yang mendapatkan sifat-sifat Nabi SAW tertulis dalam kitab Taurat yang berbunyi: “Matanya seperti yang selalu memakai cela, tingginya sedang, rambutnya kriting, mukanya tampan.” Akan tetapi mereka hapus (kalimat tersebut dari Taurat) karena dengki dan benci serta menggantinya dengan kalimat: “Badannya tinggi, matanya biru, rambutnya lurus”, ketika menjelaskan ayat 79 QS Al Baqarah: “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”.
Tidak berhenti sampai di sini, kedengkian telah menjadikan mereka rela menjadi kaki-tangan dan bala-tentara syetan untuk menyesatkan manusia dari kebenaran dan iman. Allah berfirman, artinya:
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS 2: 109).
Dengki yang merasuki saudara-saudara Yusuf a.s. menjadi jalan masuk bagi Iblis untuk membisikkan rencana jahat agar mencelakai Yusuf a.s. dengan membuangnya ke dalam sumur. Memiliki ayah seorang nabi tidaklah menjamin bahwa anak-anaknya akan selamat dari penyakit dengki. Bahkan sejarah mencatat adanya anak dan istri yang justru ingkar terhadap risalah yang dibawa oleh nabi Nuh yang termasuk salah satu dari ‘Ulul Azhmi dari para rasul.
Juni 17, 2009