Fir’aun yg jelas-jelas disebutkan melampaui batas; mengaku sebagai tuhan, membantai bani Israil, bahkan menyembelih bayi-bayi laki-laki yang baru lahir, dayangnya yang bernama Mashitah direbus hidup-hidup bersama anaknya yang masih dalam susuan karena bertauhid, toh tetap saja Allah SWT memerintahkan “Fa quula lahu qawlan layyinan…” berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Sebagaimana tetesan air yang lembut dan sejuk mampu menembus bebatuan yang keras, kata-kata lembut penuh hikmah insya Allah mampu menggugah dan menyentuh hati yang beras membatu. Karena itu, ketika Allah SWT memerintahkan Nabi untuk berdakwah, Allah juga membekali Nabi dengan retorika dakwah:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS An Nahl: 125).
Jika cara hikmah, mau’izhah hasanah, serta berdebat dengan cara paling baik sudah dijalani, maka sisanya adalah urusan Allah SWT, karena hidayah adalah hak prerogatif-Nya, bukan urusan manusia.
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki- Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (QS Al Qashash[28]: 56).
Mei 31, 2009
Lembut adalah rahmat Allah
Posted by windar87 under Uncategorized | Tag: lembut adalah rakhmat |Leave a Comment